Tayamum dikategorikan sebagai rukhsah (keringanan) yang Allah swt. berikan kepada hamba-Nya. Dikatakan keringanan, karena ia merupakan pengganti wudhu dan mandi besar.

“… dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh (bercampur) dengan perempuan (isteri), lalu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah 5:6)

Ayat ini menegaskan, kalau kita berhadas (tidak punya wudhu) karena buang air besar, buang air kecil, melakukan hubungan seks, dll. dan kita tidak mendapatkan air untuk bersuci, maka diperbolehkan bertayamum dengan tanah (debu) yang bersih.

Adapun cara bertayamum yang dicontohkan Rasulullah saw. adalah dengan menepukkan kedua telapak tangan pada dinding yang diperkirakan berdebu (bisa dinding kendaraan, kamar, dll), kemudian kalau debu yang menempel pada kedua telapak tangan itu dirasakan terlalu banyak maka tiuplah, setelah itu usapkan kedua telapak tangan tersebut pada wajah kemudian pada telapak tangan (hingga pergelangan).

Itulah cara tayamum Rasulullah saw. Silakan perhatikan keterangan berikut, “Ammar r.a. berkata: saya pernah junub dan tidak mendapatkan air, lalu saya berguling-guling di tanah, kemudian shalat. Kejadian ini saya informasikan kepada Rasulullah saw. Maka Nabi saw bersabda, “Sebenarnya kamu bisa melakukan seperti ini!” Nabi menepukkan dua telapak tanyannya pada tanah (debu) lalu meniupnya, kemudian mengusapkannya pada wajah dan dua telapak tanngannya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

*) ini gambar ilustrasi (bukan maksud sebagai petunjuk)

Kapan kita diperkenankan bertayamum? Ada sejumlah keterangan yang menjelaskan sebab-sebab diperbolehkannya bertayamum,

1.Kalau tidak ada air Kalau tidak ada air kita diperbolehkan bertayamum sebagai pengganti wudhu atau mandi besar. Atau mungkin juga kita mendapatkan air, namun tidak akan mencukupi kalau digunakan bersuci karena persediaan yang terbatas, misalnya di pesawat terbang ada air untuk bersuci, namun kalau seluruh penumpang berwudhu, maka persediann air tidak memadai, nah dalam kondisi ini kita boleh bertayamum.

Perhatikan keterangan berikut. “Umran Ibn Hushain r.a. berkata: Saya pernah bepergian dengan Rasulullah saw., lalu kami shalat berjamaah. Ketika itu ada orang yang memisahkan diri (tidak ikut shalat), Rasul bertanya, “Mengapa kamu tidak ikut shalat?” Saya junub dan tidak ada air (tidak bisa mandi), jawab orang itu. Maka Nabi bersabda, “Kamu cukup menggunakan debu untuk bersuci (bertayamumlah).” (H.R. Bukhari-Muslim)

2. Karena sakit.Sekiranya berwudhu atau mandi besar akan semakin memperparah penyakit, kita diperkenankan bertayamum sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut. Shahabat Jabir r.a. menerangkan, kami pernah bersafar, dan salah seorang di antara kami tertimpa batu hingga terluka, lalu dia ihtilam (mimpi basah). Dia bertanya kepada kawan-kawannya, “Apakah saya bisa bertayammum?” Mereka menjawab, “Tidak ada rukhshah (keringanan) untuk tayamum bagi Anda karena masih mampu mandi.” Lalu orang itu mandi, dan kemudian meninggal. Ketika pulang, kami ceritakan kejadian ini kepada Rasul saw. Nabi bersabda, “Mengapa mereka menjawab seenaknya, mengapa mereka tidak bertanya? Bukankah obat tidak tahu itu bertanya! Sebenarnya orang tersebut cukup bertayamum (tidak perlu mandi), atau dia bisa membalut lukanya dan mengusap balutan itu, lalu mandi.” (H.R. Abu Daud, Ibn Majah, dan Daraquthni) Tayamum dikategorikan sebagai rukhsah (keringanan) yang Allah swt. berikan kepada hamba-Nya. Dikatakan keringanan, karena ia merupakan pengganti wudhu dan mandi besar. “… dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh (bercampur) dengan perempuan (isteri), lalu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah 5:6) Ayat ini menegaskan, kalau kita berhadas (tidak punya wudhu) karena buang air besar, buang air kecil, melakukan hubungan seks, dll. dan kita tidak mendapatkan air untuk bersuci, maka diperbolehkan bertayamum dengan tanah (debu) yang bersih. Adapun cara bertayamum yang dicontohkan Rasulullah saw. adalah dengan menepukkan kedua telapak tangan pada dinding yang diperkirakan berdebu (bisa dinding kendaraan, kamar, dll), kemudian kalau debu yang menempel pada kedua telapak tangan itu dirasakan terlalu banyak maka tiuplah, setelah itu usapkan kedua telapak tangan tersebut pada wajah kemudian pada telapak tangan (hingga pergelangan). Itulah cara tayamum Rasulullah saw. Silakan perhatikan keterangan berikut, “Ammar r.a. berkata: saya pernah junub dan tidak mendapatkan air, lalu saya berguling-guling di tanah, kemudian shalat. Kejadian ini saya informasikan kepada Rasulullah saw. Maka Nabi saw bersabda, “Sebenarnya kamu bisa melakukan seperti ini!” Nabi menepukkan dua telapak tanyannya pada tanah (debu) lalu meniupnya, kemudian mengusapkannya pada wajah dan dua telapak tanngannya. (H.R. Bukhari dan Muslim). *) ini gambar ilustrasi (bukan maksud sebagai petunjuk) Kapan kita diperkenankan bertayamum? Ada sejumlah keterangan yang menjelaskan sebab-sebab diperbolehkannya bertayamum, 1.Kalau tidak ada air Kalau tidak ada air kita diperbolehkan bertayamum sebagai pengganti wudhu atau mandi besar. Atau mungkin juga kita mendapatkan air, namun tidak akan mencukupi kalau digunakan bersuci karena persediaan yang terbatas, misalnya di pesawat terbang ada air untuk bersuci, namun kalau seluruh penumpang berwudhu, maka persediann air tidak memadai, nah dalam kondisi ini kita boleh bertayamum. Perhatikan keterangan berikut. “Umran Ibn Hushain r.a. berkata: Saya pernah bepergian dengan Rasulullah saw., lalu kami shalat berjamaah. Ketika itu ada orang yang memisahkan diri (tidak ikut shalat), Rasul bertanya, “Mengapa kamu tidak ikut shalat?” Saya junub dan tidak ada air (tidak bisa mandi), jawab orang itu. Maka Nabi bersabda, “Kamu cukup menggunakan debu untuk bersuci (bertayamumlah).” (H.R. Bukhari-Muslim) 2. Karena sakit.Sekiranya berwudhu atau mandi besar akan semakin memperparah penyakit, kita diperkenankan bertayamum sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut. Shahabat Jabir r.a. menerangkan, kami pernah bersafar, dan salah seorang di antara kami tertimpa batu hingga terluka, lalu dia ihtilam (mimpi basah). Dia bertanya kepada kawan-kawannya, “Apakah saya bisa bertayammum?” Mereka menjawab, “Tidak ada rukhshah (keringanan) untuk tayamum bagi Anda karena masih mampu mandi.” Lalu orang itu mandi, dan kemudian meninggal. Ketika pulang, kami ceritakan kejadian ini kepada Rasul saw. Nabi bersabda, “Mengapa mereka menjawab seenaknya, mengapa mereka tidak bertanya? Bukankah obat tidak tahu itu bertanya! Sebenarnya orang tersebut cukup bertayamum (tidak perlu mandi), atau dia bisa membalut lukanya dan mengusap balutan itu, lalu mandi.” (H.R. Abu Daud, Ibn Majah, dan Daraquthni)

About these ads